Tampilkan postingan dengan label Berita Malpraktek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Malpraktek. Tampilkan semua postingan

Dugaan Malpraktek Istri Meninggal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dugaan malpraktek terjadi di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Korban bernama Ana Marlina (38 tahun) meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan akibat penyakit tiroid.

Pandapotan Manurung (41) melaporkan dokter yang berinisial BHS ke Mapolda Metro Jaya, Senin (22/4). Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya membenarkan adanya laporan tersebut. ''Ya, pelapor bernama Pandapotan Manurung, terlapor Dr. BHS,'' katanya, Selasa (23/4)

Dalam laporan LP/1316/IV/2013/Dit Reskrimum, Pandapotan mengatakan, dokter harus melakukan operasi kepada istrinya karena penyakit tiroid. Operasi tersebut dilakukan Senin (11/4) lalu. Namun, setelah melakukan operasi istrinya yang awalnya baik-baik saja mulai mengeluh sakit di lehernya, (12/4).

Istri Pandapotan mulai mengerang kesakitan, lantas dia mencoba memanggil dokter, tapi dokter tidak datang dengan berbagai alasan. Keesokannya (13/4) dokter BHS memeriksanya dan meminta untuk melakukan operasi kedua, karena terjadi pembekuan darah yang menyumbat saluran tiroid.

Saat itu juga dilakukan operasi, lantas, dokter BHS mengatakan, kelenjar teroid yang dialami sang istri menjadi kanker ganas melekat dan melilit saluran makanan dan pernafasan. Pandapotan mengatakan, setelah dilakukan operasi kedua, dokter BHS mengatakan saluran makanan istrinya jadi tipis, dan saat dikasih makan, saluran makannya putus.

Disinilah, dokter mengatakan tidak ada fasilitas untuk alat tersebut. ''Dokter bilang tidak ada alatnya,'' katanya. Lalu, istrinya pun dirawat di ICU dan pada Sabtu (20/4), istrinya tak tertolong lagi.
sumber: republika.co.id

Dugaan Malpraktek usai Cabut Gigi Meninggal

NGALIYAN- Seorang pasien RSUD Tugurejo Semarang meninggal usai dioperasi,  Rabu ( 27/02 ). Dia adalah Sutrisno (48), warga Kelurahan Purwoyoso RT 4/RW 5 Kecamatan Ngaliyan. Korban mengembuskan nafas terakhir setelah 2 minggu menjalani perawatan. Tewasnya Sutrisno menyisakan tanda Tanya besar bagi keluarga korban.

 Ada dugaan, Sutrisno menjadi korban malpraktek atau kelalaian dari seseorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien. 

Keterangan yang dihimpun, awalnya, Sutrisno mengeluh kepada istrinya, Samanah (47), bila gigi bagian belakangnya sakit. Oleh Samanah, Sutrisno kemudian dibawa ke RSUD Tugurejo untuk cabut gigi. Sesampainya di RSUD Tugurejo, Sutrisno langsung ditempatkan di ruang UGD karena kondisinya menghawatirkan.

“Selain mengeluh sakit gigi, di bawah tenggorokan, ada benjolan sebesar tangan anak kecil, diduga karena infeksi dari rahangnya hingga membengkak. Di rumah sakit, kemudian ditangani oleh dokter spesialis gigi, Drg. Handoko,” kata Samanah.

Drg, Handoko akhirnya melakukan pencabutan gigi milik Sutrisno. Menurut Samanah, ada 4 gigi Sutrisno langsung dicabut sekaligus dalam operasi pencabutan gigi itu. “Tapi beberapa waktu kemudian, suami saya sempat bilang kalau giginya sudah tidak sakit lagi. Tapi yang sakit justru malah paru-parunya,” ungkapnya.

Samanah langsung melaporkan kondisi itu kepada Drg. Handoko selaku dokter yang menangani suaminya.Setelah menerima laporan dari istri Sutrisno, pihak dari RSUD Tugurejo langsung melakukan pemeriksaan. “Hasil pemeriksaan pihak rumah sakit mengatakan di dalam paru-paru suami saya terdapat nanah dan darah,” ungkap Samanah.

Dugaan Malpraktek Salah Operasi Kaki

Starberita-Medan, Nasib naas di alami Edi Syahputra (22). Pekerja bangunan itu diduga menjadi korban Mal Praktek oleh dokter Rumah Sakit Advent Medan. Dimana korban yag hanya terkena kaca di kaki sebelah kanan, tapi kaki sebelah kiri yang dioperasi.

Ayah Korban Nasib (58) yang ditemui di RS Advent Medan Jalan Gatot Subroto, Sumatera Utara, Sabtu (20/4) sempat menceritakan kejadian yang dialami oleh putranya. Dia mengatakan pada Bulan Mei 2012 tepatnya 9 bulan lalu, Edi terkena belahan kaca di kaki sebelah kanan. Ternyata selama 9 bulan itu kaca tersebut terpendam didalam kaki.  Kemudian Nasib membawanya ke RS Advent untuk  diperiksa agar dioperasi karena untuk mengambil kaca itu.  Sampai di rumah sakit, setelah diperiksa,  Bidan itu malah menyuruh pulang.

"Pak Edi Lucu ini kan asam urat kok mau dioperasi." Ucap Bidan yang tidak diketahui namanya itu,

Kemudian saya bilang kepada bidan itu. "  Kan saya yang  tau  saya kenak kaca, kok dibilang asam urat" terang Nasib menirukan bicara anaknya.

Namun Bidan tersebut pun menjawab ringan,"Jika kenak kaca akan benanah apalagi kalau sudah 9 bulan kenak kacanya." Ucap Bidan itu.

Karena tidak puas, Nasib membawa anaknya untuk di Ronsgen kedokter. Hasil Ronsegn menunjukkan ada pecahan kaca masih tersisa di kaki sebelah kanannya. "  Hasil ronsegn ada kaki didalam,  Disuruh puasa 1 untuk operasi." urainya.

Tepat pada tanggal 25 Februari 2013 Edi menjalni operasi pukul 10.30 WIB yang ditangani dr Fredi Tambunan.

Usai operasi dr Fredi Tambunan mengatakan kepada Nasib, tidak ditemukan pecahan kaca di kaki sebelah kiri. Dokter itu malah bertanya "Mana Kacanya?". Sontak Nasib terkejut dan mengatakan bahwa yang terkena kaca kaki sebelah kanan.

Ternyata dokter Dr Fredy Tambunan
Itu menyatakan salah belah. " Padahal sebelum operasi saya udah bilang sama dokternya berulang-ulang, dok sebelah kanan ya sebelah kanan" Beber Nasib dengan wajah sedih.

Dugaan Malpraktek Operasi Caecar

ilustrasi operasi caesar
Dugaan malpraktek di Rumah Sakit Sufina Azis yang dilakukan dr Lui terhadap pasien Mariana hingga menyebabkan terjadinya kelumpuhan pasca operasi cecar masih dalam pemeriksaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan.

Hal itu dikemukakan Ketua IDI Cabang Medan dr Warli dalam rapat pendapat (RDP) dengan Komisi B DPRD Medan yang dipimpin Sekretaris Komisi B HT Bahrumsyah dihadiri Ketua Komisi B Hj Srijati Pohan serta anggota Roma Simaremare,Ainal Mardiah,M Yusuf,Juliaman Damanik dan Syamsul Bahri.

“ Untuk mencari tahu penyebab tindakan medis yang dilakukan dr Lui hingga menyebabkan pasien menderita kelumpuhan tersebut,pasien akan diperiksa tim dokter di RS Adam Malik Medan.Dipilihnya,RS Adam Malik untuk menjaga konflik interes “ katanya.

Menurut Warli,kasus dugaan malpraktek yang ditujukan kepada dr Lui sangat menyakitkan karena secara tidak langsung stikma malpraktek mencederai para dokter.Padahal,untuk untuk menentukan terjadinya malpraktek ada mekanismenya.

Dalam menyikapi kasus tersebut,ujar Warli,pihaknya akan bertindak professional dan independent.Artinya jika memang tindakan pelayanan medis yang dilakukan dr Lui diluar SOP,pihaknya akan menjatuhkan sanksi sesuai dengan ketentuan yang ada.

“ IDI Medan sudah menjatuhkan sanksi kepada rekan sejawat (dokter-red) yang melakukan kesalahan seperti mencabut izin prakteknya dan menyuruh kembali bersekolah selama 6 bulan.Karena dr Lui belum dinyatakan bersalah yang bersangkutan masih diperbolehkan melakukan pelayanan medis “ kata Warli.

Menanggapi adanya informasi yang mengatakan bahwa yang melakukan pembiusan adalah perawat sebelum pasien menjalani operasi cecar,Warli mengatakan pihaknya akan mendalami informasi tersebut.Pasalnya,saat Mariana dimintai keterangan tidak ada menyampaikan informasi seperti itu.

Dugaan Malpraktek Operasi Usus Buntu

JAKARTA - Raihan bocah 10 tahun yang diduga menjadi korban malpraktek oleh rumah sakit di Jakarta, kondisinya mulai membaik.
Raihan yang dirawat intensif di lantai enam ruang perawatan Paviliun Kartika, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, sudah bisa merasakan sakit atau rasa yang lainnya.
"Sekarang Raihan sudah bisa merasakan sakit, dan kondisinya sudah membaik dari sebelumnya," kata orang tua Raihan, Oti Puspa Dewi, kepada Okezone, Rabu (16/1/2013).
Oti mengatakan, saat ini anaknya yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar itu masih dirawat intensif, dan tidak bisa dijenguk oleh orang lain. "Masih dirawat belum bisa dijenguk untuk sementara waktu," imbuhnya.
Oti juga menyesalkan sikap dari Rumah Sakit Medika Permata Hijau (MPH) yang saat ini belum ada itikad baik kepada keluarga Raihan. "Iya saya juga menyesalkan, MPH yang belum ada itikad baik ke kami. Makanya kasus Raihan sampai ke DPR. Sebelumnya MPH juga mengatakan akan bertemu kami," pungkasnya.
Seperti diketahui, sebelumnya Raihan mengakui sakit perut biasa lalu dibawa ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau (MPH) Jakarta oleh ibunya. Dan dirawat inap anak di lantai lima rumah sakit tersebut.
Dokter melakukan diagnosa awal dan menduga Raihan mengalami usus buntu akut. Orangtua Raihan lalu melakukan konsultasi ke dokter bedah umum dan mendapatkan penjelasan bahwa penyakit yang diderita oleh Raihan adalah usus buntu dan disampaikan secara mendesak agar segera dilakukan tindakan operasi.
 Orangtua Raihan tidak langsung menyetujui tindakan operasi dan meminta kepada dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan dilakukannya USG untuk melihat kebenaran dugaan tersebut. Namun dokter menjelaskan kalau tindakan itu tidak perlu dilakukan. Dokter yang menangani menganggap kalau itu hal biasa dan sering dilakukan olehnya.

Dugaan Malpraktek Operasi Jari

Sindonews.com - Ketua Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Dien Emmawati mengatakan, akan menyelidiki kasus terduga bayi korban malpraktik di Rumah Sakit (RS) Harapan Bunda, Ciracas, Jakarta Timur.
Menurutnya, jika terbukti melakukan malpraktik, maka rumah sakit yang bersangkutan akan diberikan sanksi berdasarkan tingkat kesalahannya.
"Kita mau pastikan dulu apa benar memang bayi itu korban malpraktek. Tadi, saya juga liat foto-fotonya, apa jarinya putus katanya diamputasi. Jika benar terbukti pasti ada sanksinya. Tapi, kita mau selidiki dulu seperti kasusnya. Sanksi itu kan berdasar tingkat kesalahannya," ujar Dien Emmawati, di Balai Kota DKI, Jakarta, Kamis (11/4/2013).
Balita yang diketahui bernama Edwin Sihombing yang masih berumur 2,5 bulan merupakan putra pasangan suami istri Gonti Laurel Sihombing (34) dan Romauli Manurung (28) diduga menjadi korban malpraktik, oleh dokter di Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta Timur, di Jalan Raya Bogor, Ciracas, Jakarta Timur.
Akibat dugaan malpraktik tersebut, bayi mungil itu harus kehilangan separuh jari telunjuk kanannya karena diduga digunting oleh dokter yang merawatnya.
Selain itu, Dien melanjutkan, paling lambat minggu depan, Dinas Kesehatan DKI akan memastikan kasus yang menimpa bayi malang tersebut bisa segera diungkap kebenarannya.
"Tadi Pak Safar sudah ke sana, tapi kesorean. Paling lambat hari senin kita bisa tahu semua seperti apa kasusnya," paparnya.
Pada kesempatan itu dia mengatakan, jika memang terbukti benar dokter RS Bunda Harapan melakukan malpraktik terhadap bayi tersebut, maka ancaman sanksi terberat akan dicabut izin praktiknya. "Iya, bisa dicabut ijin praktiknya," tandasnya.

Salah Bedah Jantung

Dua bulan setelah dua kali operasi bypass jantung yang diduga untuk menyelamatkan hidupnya, pelawak dan mantan Pembawa acara Saturday Night Live cast anggota Dana Carvey mendapat berita : ahli bedah jantung yang telah mem bypassed salah artery. Butuh waktu lain operasi darurat untuk menghapus blockage yang mengancam membunuh pria 45 tahun, pelawak dan ayah dua anak. Menuntut US $ 7,5 juta Carvey membawa perkara terhadap rumah sakit tersebut, dengan mengatakan ahli bedah telah melakukan kesalahan fatal “Ini seperti mengeluarkan ginjal yang salah. Ada kesalahan yang besar,” demikian seperti dikutip People Magazine

Bangun ketika Dioperasi

Pria dari Virginia Barat ini mengaku terbangun dari Pingsannya ketika dioperasi dan merasakan setiap sayatan dari pisau bedah yang dilakukan tim dokter ketika mengoperasi, yang menyebabkan mengalami trauma selama dua minggu kemudian, Sherman Sizemore kemudian mengajukan tuntutan ke Rumah Sakit Umum Raleigh Beckley, W.Va., Jan 19, 2006 untuk operasi penyelidikan dan menentukan penyebab nya ia terbangun. Tetapi pada saat operasi, dia dilaporkan mengalami fenomena yang dikenal sebagai yg menyebabkan kematirasaan kesadaran – sebuah negara di mana seorang pasien bedah dapat merasakan sakit, tekanan atau kegelisahan saat operasi, tetapi tidak dapat bergerak atau berkomunikasi dengan dokter. http://anehdidunia.blogspot.com
Tim Dokter Telah melukai pria 73 tahun tersebut dengan pengalaman yang terjaga selama operasi tetapi tidak dapat bergerak atau menjerit kesakitan.

Kesalahan Mengeluarkan Ginjal

Louis Park, Minnesota, pasien yang dirujuk ke Rumah Sakit Park Nicollet Metodhist karena memiliki tumor yang diyakini menjadi kanker. Namun, dokter salah mendiagnosa dan membuang ginjal yang sehatnya

“Penemuan ini pengunjung anehdidunia.blogspot dilakukan pada hari berikutnya ketika diperiksa oleh tim patologi dan tidak menemukan bukti dari segala kejahatan,” kata Samuel Carlson, MD dan pimpinan Park Nicollet Chief Medical Officer. Yang berpotensi kanker, ginjal tetap utuh dan berfungsi. Untuk privasi dan permintaan keluarga, tidak ada rincian tentang pasien.

Kesalahan Amputasi Kaki

Mungkin ini adalah kasus yang paling terkenal yakni kasus kesalahan pemotongan kaki di Tampa (Florida) terhadap pria 52 tahun Willie King, saat prosedur pemotongan pada Februari 1995. Akibat kesalahan fatal rumah sakit tersebut di cabut licensi nya selama 6 bulan dan denda 10.000 US$ dan membayar 900.000 US$ terhadap Willie King dan terakhir tim operasi membayar juga 250.000 US$ terhadap King

Salah Operasi Otak

Untuk yang ketiga kalinya pada tahun yang sama, dokter di RS Rhode Island telah mengoperasi salah satu sisi kepala pasien. Kejadian yang terbaru terjadi Nov 23 2007. perempuan 82-an tahun suatu operasi untuk menghentikan pendarahan otak dan tengkorak nya. J neurosurgeon di rumah sakit memulai mengoperasi pengeboran sisi sebelah kanan kepala pasien, meskipun sebuah CT scan menunjukkan perdarahan di sebelah kiri, menurut laporan setempat. Para penduduk melaporkan kesalahan, setelah mana menutup lubang sebelah kiri dari kepala pasien. Pasien tersebut dalam kondisi yang baik pada hari Minggu.

Echoes kasus dari kesalahan yang sama Februari lalu, di mana yang berbeda adalah dokter mengoperasi pada salah satu sisi kepala pasien. Dan terakhir Agustus, pria 86 tahun meninggal tiga minggu setelah seorang ahli bedah di Rumah Sakit Rhode Island mengooperasikan secara tidak sengaja di salah satu samping kepalanya.

Salah Operasi Otak dan Jantung

Joan Morris (nama samaran) adalah perempuan 67 mengakui ke rumah sakit untuk belajar namun kesalahannya fatal, karena telah mengambil pasien yang salah yang harusnya dioperasi otak malah dioperasi jantungya. sang pasien sudah di meja operasi selama satu jam. Dokter telah membuat torehan -torehan di dada, artery, alur dalam sebuah tabung dan snaked atas ke dalam hatinya (prosedur dengan risiko perdarahan, infeksi, serangan jantung dan stroke).

Yaitu saat telepon berdering dan dokter dari departemen lain ditanya “apa yang anda lakukan dengan pasien saya?” tidak ada yang salah dengan jantungnya ! “. Kardiolog yang bekerja pada wanita itupun memeriksa grafik, dan melihat bahwa dia telah membuat kesalahan yang hebat. Kajian ini dibatalkan, dan dia kembali ke kamar itu dalam kondisi stabil.

Logam Tertinggal setelah Operasi

Donald Church, 49 tahun, memiliki tumor di perut ketika ia tiba di Universitas Washington Medical Center di Seattle pada bulan Juni 2000. Ketika dia kembali, tumor sudah tidak ada namun sebuah logam retractor ketinggalan didalamnya. Dokter mengakui kesalahannya meninggalkan logam retractor sepanjang 13 Inci didalam perut, Untungnya, Dokter Ahli Bedah mampu mengangkat retractor tersebut segera setelah ditemukan, dan ia tidak mengalami kesehatan jangka panjang akibat dari kesalahan tersebut. Rumah sakit setuju untuk membayar ganti rugi sebesar US$ 97,000.

Salah Operasi Testis

Hal lain adalah salah-sisi operasi, Dokter Ahli Bedah keliru membuang testis yang sehat sebelah kanan dari vetran Air Force 47 tahun Benjamin Houghton. Pasien yang telah yg mengeluh sakit dan berkurangnya mentalitas dari testis sebelah kiri jadi dokter memutuskan untuk menjadwalkan operasi untuk membuangnya karena takut kanker. Namun para pengunjung anehdidunia.blogspot apa yang dibuangnya adalah testis yang sehat, yakni yang sebelah kanan, pasangan tersebut kemudian mengajukan ganti rugi sebesar Us$200.000 karena kesalahan fatal tersebut

Salah Mencangkok Organ Tubuh

17 tahun Jésica Santillán meninggal 2 minggu setelah menerima jantung dan paru-paru pasien dari golongan darah yang tidak cocok dengan dia. Dokter di Duke University Medical Center gagal untuk memeriksa kompatibilitas sebelum operasi dimulai. . Setelah operasi kedua transplantasi untuk mencoba memperbaiki kesalahan, dia menderita kerusakan otak dan komplikasi yang menyebabkannya meninggal. http://anehdidunia.blogspot.com

Santillán, seorang imigran Meksiko,datang ke Amerika Serikat tiga tahun sebelumnya untuk mencari perawatan medis atas jantung dan paru-parunya. transplantasi Jantung & paru-paru oleh Dokter Ahli Bedah Rumah Sakit di Universitas Duke di Durham, NC, diharapkan akan memperbaiki kondisi ini, bukan menempatkan dia dalam bahaya besar; Santillán, yang memiliki jenis darah-O, telah menerima organ dari tipe donor A .

Salah Sperma Bayi Tabung

Ketika Nancy Andrews, dari Commack, NY, menjadi hamil setelah di vitro pemupukan sperma di klinik kesuburan Newyork, dia dan suaminya yang tampan mengharapkan sepertinya. Apa yang mereka harapkan adalah seorang anak yang signifikan dengan kulit yang gelap lebih baik dari orang tuanya. Menyusul tes DNA yang disarankan dokter di Kedokteran New York Layanan bagi Pengobatan Reproduksi, disengaja menggunakan sperma orang lain untuk ditanamkan ke sel telur Nancy Andrews’ .

Kemudian bayi tersebut lahir 19 Oktober 2004, mereka menuntut karena malpraktik tindakan ceroboh seorang pemilik klinik.